BPBD, LMG – Mitos/Myth merupakan suatu produk budaya yang menceritakan kisah-kisah penokohan dewa atau pahlawan, baik yang bersumber dari cerita pewayangan, tafsir, pemaknaanya dan campuran fiksi pengaruh dari cerita negara India dan Yunani (Budiono; 2014). Penyebaran mitologi khususnya dari luar dipengaruhi oleh pergerakan jalur perdagangan dan penaklukan (conquest)/penjajahan dari negara eropa (Portugis, Belanda, Yunani, Spanyol dan Itali) beberapa tanah di wilayah Benua Asia yang kita kenal dengan semboyan 3G (Gold, Glory Gospel)
Kearifan lokal atau akar budaya lokal dan pengaruh luar khususnya dengan mitigasi dan rescue dalam mitologi jawa kuno secara empiris sangat erat hubungannya biarpun masih sebatas hipotesis. Penulis disini mencoba membagi menjadi 3 (tiga). Pertama, Kepercayaan (Faith) yang dianut masyarakat lokal yaitu animisme dan dinamisme. Masyarakat Jawa terbiasa menokohkan/idol sosok mahluk dari cerita atau dongeng yang belum tentu kebenarannya secara turun temurun. Contoh cerita penampakan Nyi Roro Kidul di Pantai Selatan dikaitkan dengan datangnya bencana tsunami. Sehingga masyarakat pesisir pantai akan segera mencari tempat mengungsi yang tinggi agar selamat dari terjangan ombak tsunami.
Kedua, mitos kalender jawa dan waktu/semenjana, disini dapat kita artikulasikan di dalam kepercayaan orang jawa, waktu memliki arti tersendiri secara eksplisit. Contoh bulan Selo secara harfiah artinya batu, tapi bisa diartikan seselane olo atau kita kenal dengan bulan yang banyak pantangannya/pamali. Contoh yang lain yaitu waktu antara petang dan malam yang dipercayai sebagian orang waktu keluarnya bethorokolo atau sandikolo (waktu musibah/bencana datang). Dengan sugesti ini pada waktu-waktu tersebut masyarakat tidak berani bepergian dikarenakan takut terjadi halhal yang tidak diinginkan, otomatis dengan sendirinya tercipta self defense.
Ketiga, Astronomi (Ilmu Tata Surya), dalam beberapa penelitian metodologi pedesaan khususnya di Pulau Jawa, masyarakat Jawa Purwa/Kuno dalam hal bercocok tanam sering menjadian posisi rasi bintang sebagai tolok ukur. Contoh yang lain pada saat terjadi gerhana matahari total (Total Solar Eclipse) yang digambarkan kemurkaan dewa kebathilan atas manusia sehingga menelam matahari dan bulan. Fenomena ini mengakibatkan masyarakat untuk membunyikan lesung, menabuh benda-benda keras atau membuat bising agar terhindar dari murka sang dewa. Bahkan, untuk wanita/ibu hamil bersembunyi di bawah tempat tidur (mbayang) agar dirinya dan calon bayinya selamat dari kemurkaannya. Dengan demikian diharapkan tidak sampai ada korban jiwa di daerah tersebut.
Disini dapat kita simpulkan bahwa mitigasi dan penyelamatan kebencanaan sebenarnya sudah berlangsung lama atau sejak mahkluk yang namanya manusia itu tinggal di bumi.
(*) Sumber: Pusdalops BPBD Lamongan (esr).
